Kamis, 08 September 2011

FIRMAN UTINA: KAMI SEPERTI ANAK AYAM KEHILANGAN INDUK


 "Membaca strategi Wim Rijsbergen ini rasanya sesulit mengeja nama belakang sang pelatih"
Indonesia Raya berkumandang di GBK

JAKARTA – Selasa (05/09) pukul 18.00, Stadion Utama Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta, sudah penuh sesak. Stadion berkapasitas 80 ribu penonton yang dibangun pada tahun 60-an ini seakan mau roboh dengan gemuruh suara suporter menyemangati tim nasional Indonesia yang akan menjamu Bahrain. Laga kali ini adalah pertandingan ke-2 Tim Merah Putih di Grup E Pra-Piala Dunia 2014 zona Asia. Para suporter yang mayoritas mengenakan kaus merah, sepertinya sudah melupakan kekalahan Bambang pamungkas dkk tiga hari sebelumnya dari Iran 0-3 pada laga perdananya di Taheran.

Satu jam sebelum pertandingan, tribun VIP timur sudah penuh sesak. Saya hadir di VIP Timur sebagai penonton, karena sedang tidak menjalankan tugas sebagai jurnalis. Saya melirik ke kanan kiri, ternyata seluruh sisi stadion juga sudah padat, hanya tribun VVIP dan VIP Barat yang masih kosong karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat tinggi akan duduk di sana. 

Antusias suporter tuan rumah ternyata tidak berimbas ke lapangan. Entah mengapa, Tim Merah Putih seperti kekurangan tenaga menghadapi kokohnya tembok pertahanan Bahrain. Padahal gemuruh suara penonton di GBK cukup membuat para pemain Bahrain ciut. Bayangkan, jumlah penonton yang hadir di GBK sudah mencapai 11 persen penduduk di Negara Bahrain. Negara kecil di Teluk Persia ini hanya berpenduduk 700 ribu jiwa. Jadi mustahil rasanya Bahrain mendapat dukungan sebanyak di GBK jika menjadi tuan rumah.

Salah strategi?
Aroma kekalahan sebenarnya sudah tercium menjelang pertandingan. Setelah sama-sama menjalani laga perdana Grup E, Timnas Bahrain justru tiba di tanah air lebih dulu. Tim Bahrain tiba 2 hari sebelum pertandingan, sedangkan Bambang Pamungkas cs baru tiba sehari sebelum pertandingan. Alasan penerbangan dari Iran-Jakarta lebih sulit ketimbang Bahrain, memang bisa diterima kalau kita pergi mendadak. Tapi dengan jadwal yang sudah dirancang jauh hari, harusnya PSSI bisa mempersiapkan perjalanan lebih baik. 

Ketidakcermatan non teknis sepertinya diperburuk dengan strategi pelatih Wim Rijsbergen di lapangan hijau. Membaca strategi Rijsbergen ini rasanya sesulit mengeja nama belakang sang pelatih. Saya sulit mengerti ketika ia menempatkan Boas Solossa di sayap kanan, bukan sayap kiri atau penyerang tengah yang sering ia perankan di Persipura atau Timnas. Rasanya, menduetkan Christian Gonzales dengan Bambang Pamungkas juga bukan pilihan terbaik. Singkat kata Tim Garuda takluk di rumahnya sendiri dari Bahrain 0-2.

Menyalahkan pemain
 Seusai pertandingan, Rijsbergen kepada wartawan justru menyalahkan para pemain. Arsitek asal Belanda ini mengatakan para pemain merah putih tidak siap bermain di level internasional. Pemain pun merasa dikambinghitamkan. Wakil  Kapten Timnas Firman Utina di media social twitter sempat mengungkapkan perasaannya. “Saat sekarang kami bagaikan anak ayam yang ditinggalkan induknya,” ungkap Firman. 

 Selain itu, terungkap kabar bahwa Rijsbergen juga mengungkapkan kata-kata tidak layak di ruang ganti pemain saat jeda. Dengan lantang ia berteriak, “f*ck you all, apabila kalian tidak bermain baik di babak kedua saya akan tendang kalian semua dari tim ini" [If you don't play better in the second half I will kick all of you out.] Mantan pelatih Timnas Alfred Riedl menyayangkan hal ini. Kepada Goal.com, Riedl mengungkapkan kata-kata tersebut tidak pantas dikeluarkan seorang pelatih. Di Eropa, jika ada pelatih berkata-kata seperti itu bisa-bisa dia langsung dipecat atau dipukul pemainnya. 

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia harus bertanggung-jawab. PSSI yang menunjuk Rijsbergen secara tiba-tiba menggantikan Alfred Riedl. Alasannya, juga tidak jelas. Ketua PSSI yang baru terpilih saat itu, Djohar Arifin mengatakan tidak menemukan kontrak Riedl dan kabarnya kontraknya bukan dengan PSSI tapi dengan salah satu pengurus PSSI Nirwan D. Bakrie. Alasan ini langsung dibantah mantan Sekjen PSSI Nugraha Besoes. Ia menunjukkan kontrak PSSI dengan RIedl yang ditandatangani Nirwan sebagai Wakil Ketua Umum PSSI dengan kop surat  PSSI. Blunder pertama sang ketua umum. Ketidakjujuran memang harus ditutupi dengan kebohongan.

Pilihan yang penuh resiko kalau tidak bis dikatakan konyol!. Saat itu Timnas harus menjalani pra-kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia melawan Turkmenistan. Caretaker ditunjuk Rahmad Darmawan, sementara pelatih yang ditunjuk masih ada di negaranya, Belanda. Beruntung Rahmad buru-buru menyiapkan tim yang sebagian besar pemain di AFF Cup lalu. Tidak susah bagi Rahmad mengetahui kekuatan Firman Utina dkk, karena semua pemain ini dikenalnya secara baik saat melatih tim-tim besar Liga Indonesia seperti Persipura, Sriwijaya FC dan Persija. Jadi menurut saya keberhasilan Indonesia menyingkirkan Turkmenistan lebih kepada faktor Rahmad Darmawan bukan Wim Rijsbergen! 

Kualitas asli Rijsbergen yang pernah melatih klub eredivisie seperti FC Groningen dan NAC Breda bisa dilihat ketika Rahmad memilih mundur dari Timnas senior dan berkonsentrasi menangani Timnas U-23. Dalam 5 laga yang telah dijalani, Timnas menang 1 kali, 1 kali seri dan 3 kali kalah. Hanya bisa menang 4-1 di laga ujicoba melawan Palestina, Ditahan seri 1-1 pada laga ujicoba melawan Timnas U-23, kalah 0-1 dipertandingan persahabatan melawan Yordania, serta kalah dua kali di ajang resmi Pra Piala Dunia melawan Iran dan Bahrain.

Apakah perlu mengganti Rijsbergen saat ini? Sebaiknya PSSI jangan ceroboh dan membuat keputusan konyol lainnya. Harus dipertimbangkan secara matang mengingat jadwal timnas senior di Pra Piala Dunia. Sebaiknya PSSI memberikan Warning kepada pelatih pilihannya saat ini, sebelum mengetuk palu. Paling tidak hingga pertandingan melawan Qatar pada Hari 11 Oktober mendatang. Jika masih kalah dan kerap menyalahkan pemain, sebaiknya Rijsbergen angkat kaki saja. Bagi wartawan, lebih mudah mengeja nama Rahmad atau Riedl dibanding Rijsbergen. Saya yakin pemain juga begitu. 

Saran untuk PSSI, jangan langsung men-cap seseorang anti-reformis jika tidak mendukung keputusan yang diambil, apalagi keputusan yang ngawur. Jika kami tidak memilih warna putih, belum tentu kami hitam. Karena masih ada warna lainnya seperti merah atau hijau yang juga merupakan warna seragam tim nasional.

Salam,
Medo Maulianza   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar